Pemanfaatan TIK di Negara Singapura

Januari 12, 2009 gadiskarawang2

ANENG ARUNAH

0804879


PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI NEGARA SINGAPURA

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi di Negara Singapura

Berbicara tentang teknologi informasi maupun teknologi komputer, AS dikenal sebagai negara yang sarat teknologi tinggi. Namun, pelaku-pelaku utama bidang teknologi informasi dan komputer sebagian besar berasal dari
negara-negara di kawasan Asia, seperti India, Cina, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Singapura dan lainnya, yang memang memiliki dasar pendidikan yang kuat.

Kelihatannya, pengaruh pendidikan dasar dan menengah sangat dominan untuk kemajuan suatu bangsa. Itulah yang menentukan jalannya perputaran orang-orang pintar dan berpengaruh di dunia teknologi informasi, khususnya di kawasan Asia.

Kepandaian bangsa Asia dalam mengimplementasikan teknologi terlihat sangat mencolok. Dimulai dari kebangkitan bangsa Jepang yang mulai meniru perangkat atau mesin-mesin apa saja yang ada di dunia, yang saat itu dikuasai oleh negara-negara Barat. Diikuti Taiwan yang sangat piawai dalam dunia teknologi komputer, terutama setelah Apple II diperkenalkan oleh duet Steve Wozniak dan Steve Jobs. Kemudian diikuti Korea yang mencontoh dan modifikasi dengan menyesuaikan diri pada kondisi di Korea. Dan, terakhir raksasa besar yang baru bangun dari tidurnya, Republik Rakyat Cina.

Kalau kita perhatikan seluruh daratan Asia, terlihat kalau dominasi teknologi komputer dan informasi dikuasai oleh empat besar saja, Cina, Taiwan, Singapura, dan Korea. Sementara Jepang berkutat di produksi barang-barang elektronik umumnya, walaupun ada banyak perusahaan yang punya spesialisasi dalam teknologi informasi seperti Toshiba, Fujitsu, NEC, dan lainnya. Sedangkan India sangat kuat di pengembangan perangkat lunak dan sistem.

Singapura mempunyai sifat yang agak spesifik, karena mereka memang tidak mempunyai alternatif lain untuk bisa hidup menghadapi negara-negara sekelilingnya, yang kebanyakan kaya akan hasil bumi. Dengan memusatkan perhatian pada kemajuan teknologi informasi, Singapura mendudukkan dirinya menjadi teratas di lingkungan Asia Tenggara. Sebetulnya kalau kita perhatikan, kelebihan Singapura dalam dunia teknologi informasi hanya pada dua hal, infrastruktur yang baik dan lokasinya yang cukup strategis.

Kemajuan Singapura juga ditunjang penuh oleh negara-negara besar seperti Malaysia dan Indonesia. Karena dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit dan pangsa pasar yang kecil, agak aneh melihat Singapura merupakan pemimpin teknologi informasi di kawasan Asia Tenggara.

Kehebatan macan Asia (Cina, Taiwan, Singapura, dan Korea) tersebut adalah kemampuan melihat peluang yang ada, kemampuan untuk memasarkan produknya ke berbagai negara, dan sudah tentu kemampuan untuk melakukan riset tambahan khusus untuk menjual produknya lebih banyak dan murah.

Kalau kita bandingkan dengan produk buatan AS, produk dari empat macan Asia ini sangat kompetitif sekali. Sebuah, router yang bermerk sangat terkenal dari AS, bisa dijual oleh sebuah produsen di Cina hanya senilai 40 persen dari harganya. Tentu dengan kemampuan dan kualitas yang setara.

Komputer rakitan yang disebut juga Komputer Generik, bisa dijual 20 persen lebih murah dari yang ada mereknya. Walaupun pada kenyataan, hampir semua komputer bermerek di dunia, dibuat dan dikembangkan di empat negara tersebut.

Pengalaman berbisnis dengan mitra di antara ke empat negara ini membuktikan, kita betul-betul harus angkat topi akan usaha yang sudah mereka lakukan, sehingga dapat membuat barang dengan jumlah banyak, memangkas dana untuk promosi agar dapat dijual dengan harga lebih murah dan mutu yang memadai.

Kenyataan yang tidak bisa diperdebatkan adalah komputer PC, di mana IBM PC yang mencetuskan ide dan sekaligus merancang sistem komputer yang dikenal sekarang ini. Tetapi, kalau kita lihat, saat ini pemain utama perangkat komputer PC yang berasal dari teknologi yang dikembangkan IBM, sekarang dikuasai oleh Taiwan, Singapura, Korea Selatan, dan Jepang. Kenapa bisa terjadi hal ini? Sebagian besar disebabkan oleh cara kerja orang Asia yang relatif lebih mementingkan unjuk kerja ketimbang show-off, menampilkan hal-hal yang semestinya tidak perlu.

Perangkat yang diberi merek terkenal, harganya akan relatif lebih mahal karena butuh biaya untuk beriklan, untuk layanan purna jual, dan untuk penelitian dan pengembangan sistemnya. Katakan satu set komputer IBM, selisih harganya 20-30 persen lebih mahal ketimbang buatan Taiwan dan bahkan dengan unjuk kerja yang mungkin lebih rendah ketimbang bikinan Taiwan.

Dengan kemajuan teknologi yang pesat, ditambah penelitian dan pengembangan yang didukung pemerintahnya, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan tidak kalah dalam pengembangan sistemnya. Bahkan ada kecenderungan perusahaan-perusahaan komputer besar meminta negara macan Asia tersebut untuk membantu pembuatannya, agar biayanya bisa ditekan dengan kualitas yang tetap prima.

B. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Negara Singapura

Menceritakan tentang perkembangan dan pemanfaaatan teknologi informasi (TI) di Singapura memang tidak akan ada habisnya. Masyarakat di negara bekas pendudukan Inggris tersebut kebutuhan akan bandwidth Internet-nya sangat dilayani, kalau tidak ingin disebut dimanjakan, oleh pemerintahnya.

Salah satunya adalah program layanan Internet wireless hotspot yang berjejuluk Wireless@SG. Program tersebut, menurut Menteri Kominfo Singapura Lee Boon Yang ketika membuka ajang CommunicAsia 2007 pada Selasa (19/6/2007), bertujuan untuk menyelimuti sebagian besar sentra bisnis dan perumahan Singapura dengan akses Internet.

“Saat ini telah terpasang lebih dari 3400 titik wireless hotspot di wilayah Singapura. Per September tahun ini akan ditambah 1600 titik lagi,” ujar Boon Yang. Menurut Boon Yang, saat ini sudah sekitar 430 ribu orang yang mendaftar dan langsung bisa menikmati layanan broadband wireless secara cuma-cuma tersebut.

Program Wireless@SG untuk pertamakalinya diinisiasi oleh pemerintah Singapura, dan kemudian dijalankan oleh iCELL Network, QMax Communications dan Singtel. Kali pertama mendaftar, pengguna akan bisa menikmati layanan tersebut gratis selama tiga tahun.

Cukup dengan satu username dan password, penggunanya akan bisa menikmati Internet hotspot di berbagai tempat semisal pusat perkantoran, rumah sakit, sentra makanan, pusat perbelanjaan, obyek wisata, hotel, dan bahkan hingga ke sejumlah kawasan perumahan umum.

IT 2000 Sectoral Group:

a. Tourist & Leisure Services. g. Transportation.

b. Retail, Wholesale & Distribution. h. Government

c. Education & Training. i. Financial Services.

d. Media Publishing & Information Services. j. Manufacturing.

e. IT Industry. k. HealthCare.

f. Construction & Real Estate.

Some Singapore’s Initiatives:

a. Trade-Net f. Establishment of Data Hubs.

b. Student’s & Teacher’s Workbench. g. Internet for Schools.

c. Construction and Real Estate NETwork. h. Legal Services – Court Vision 21.

d. Helthcare MediNet i. Electronic Road Pricing (ERP)

e. TourNet j. Borderless Library Network.

Singapore’s TradeNet:

a. Customs. h. Wholesalers.

b. Distributors. i. Retailers.

c. Importers / Exporters. j. Freight Forwarders.

d. Shipping Agents. k. Carriers.

e. Transport Companies. l. Banks.

f. Information Providers. m. Insurance Companies.

g. Air Cargo Agents. n. Other Gov’t Agencies.


TradeNet Key Factor:

¨ Human Resource.

¨ Electronic Data Interchange (EDI).

Singapore’s Data Hub:

¨ Land Hub

Physical land-related data including lot boundaries, buildings, utilities, roads.

¨ Estab Hub

Business information like name, registration number, paid-up capital, directors information.

¨ People Hub

Personal data like name, NRIC, address, sex, date of birth etc.

Data Hubs Benefits:

¨ Reduced effort in data collection and processing.

¨ Minimise redudancy and duplication of data storage.

¨ Less of a bother for the citizen to fill up common information already known.

¨ More timely, accurate and consistent data.

C. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi dalam Bidang Pendidikan di Negara Sinapura

Dunia telah berubah. Dewasa ini kita hidup dalam era informasi/global. Dalam era informasi, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik masyarakat seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global.

Kita bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran.

Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK dalam pembelajaran kedalam empat tahap sebagai beirkut:

Emerging, Menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya.

Applying, Satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran).

Integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran).

Transforming, Merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan.

TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi (administrational purpose).

Secara ideal, kondisi yang seharusnya terjadi adalah TIK sudah diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, mari kita perhatikan salah satu bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran yang ditunjukkan dalam oleh suatu rencana pembelajaran (lesson plan) yang pernah dibuat oleh beberapa guru SMA di negara singapura adalah sebagai berikut ( lampiran ).

Rencana pembelajaran menunjukkan secara jelas bahwa melalui pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran, disamping tujuan pembelajaran tercapai ada suatu agenda terselubung (hidden agenda) penting yang dapat dicapai pula, yaitu ICTs Literacy, seperti siswa dapat melakukan browsing informasi melalui internet, berkomunikasi melalui e-mail, membuat laporan dengan aplikasi pengolah kata (MSWord), atau mempresentasikan sesuatu dengan MSPowerpoint. Inilah yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Fryer (2001) mengatakan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih keterampilan menggunakan TIK dengan cara mengintegrasikannya ke dalam aktifitas pembelajaran, bukan mengajarkan TIK tersebut sebagai mata pelajaran yang terpisah. Jadi, sudah saatnya TIK diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan bukan hanya sekedar menjadi mata pelajaran yang terpisah.

UNESCO (2002) menyatakan bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan utama:

1) untuk membangun ”knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada oranglain;

2) untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan

3) untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.

Mengapa demikian? Karena secara teoretis TIK memainkan peran yang sangat luar biasa untuk mendukung terjadinya proses belajar yang:

Active ; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.

Constructive ; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.

Collaborative ; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.

Intentional ; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Conversational ; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.

Contextualized ; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning

Reflective ; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).

Dengan kata lain, TIK memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000). TIK memungkinkan pembelajaran disampaikan secara interaktif dan simulatif sehingga memungkinkan siswa belajar secara aktif. TIK juga memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung meningkatkan ”ICT literacy” (Fryer, 2001).

Jangan heran jika melihat anak-anak sekolah dasar di Singapura tidak canggung memanfaatkan komputer atau laptop, telepon seluler, internet, whiteboard interaktif, hingga peralatan canggih laboratorium. Maklum, dalam pembelajaran sehari-hari mereka sudah memanfaatkan secara optimal teknologi informasi dan komunikasi. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bukan untuk memperumit pembelajaran. Justru pelajaran-pelajaran yang sulit atau susah menjadi mudah, menarik, dan menyenangkan bagi siswa. Melalui pemanfaatan TIK, misalnya, disajikan game, suara, dan animasi sehingga siswa mudah mengerti materi pelajaran.

Perkembangan TIK yang diyakini akan mentransformasi proses belajar dan mengajar di sekolah masa depan inilah yang mewarnai pelaksanaan International Conference on Educational and Technology (ICET) 2007 di Singapura, 21-22 November lalu. Chang Hwee Nee, Wakil Sekretaris Bidang Kebijakan, Kementerian Pendidikan Singapura, mengatakan, dalam kaitannya dengan pendidikan, perkembangan TIK seharusnya mampu mendorong guru untuk memanfaatkan TIK. Bukan cuma game, tetapi blog yang dijuluki sebagai buku


tulis harian online, mailing list, juga dimanfaatkan optimal sehingga proses
belajar menjadi lebih interaktif.

“Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi akan mengubah proses
belajar dan mengajar di sekolah ke arah pendidikan yang mendorong
inovasi dan eksperimen. Hal ini memerlukan komitmen kuat dari guru
untuk memanfaatkan teknologi, baik hardware, software, maupun e-learning untuk membuat belajar jadi mudah bagi siswa,” kata Chang Hwee Nee dalam pembukaan ICET Ke-4 yang diikuti sekitar 1.200 peserta dan 40 perusahaan TIK untuk pendidikan. Chang mengatakan, Pemerintah Singapura mendorong penggunaan TIK secara nasional.

Rencana induk pemanfaatan TIK untuk pendidikan pertama yang dibuat
tahun 1997 yang menekankan pada ketersediaan infrastruktur TIK telah
diubah. Rencana induk kedua mulai tahun 2002 diarahkan guna
memaksimalkan teknologi di era digital untuk membuat Singapura menjadi bangsa cerdas yang disebut Intelligent Nation by 2015 (IN2015). Berdasarkan survei Badan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Singapura (Infocomm Development Authority/IDA of Singapore) tahun lalu, 78 persen keluarga di negara ini memiliki minimal satu komputer, umumnya mereka yang memiliki anak usia sekolah. Penggunaan internet untuk aktivitas pendidikan dan belajar juga cukup tinggi. Kemudahan mengakses internet di ruang publik cukup didukung.

Agustus 2007 ini tercatat 5.600 hotspot yang melayani 520.000 pelanggan internet di Singapura. Ronnie Tay, Kepala Badan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Singapura, mengatakan, pemanfaatan TIK dalam pendidikan membuat siswa belajar secara mandiri. Mereka selama ini terbiasa mengekspresikan diri dengan menggunakan blog, foto, maupun video di situs web yang menyediakan layanan ini. Akhirnya, peran guru pun lebih banyak sebagai fasilitator yang mendorong siswa terus kreatif dengan memanfaatkan media digital yang interaktif. Pemerintah Singapura juga sudah membentuk model sekolah masa depan atau future school salah satunya adalah Classroom of The Future di National Institute Education. “Mengenalkan anak-anak dengan lingkungan digital yang baru berkembang berarti kita menyiapkan mereka masuk ke dunia masa depan dan berkontribusi di dunia yang akan semakin bergantung pada teknologi, “kata Ronnie Tay.

Amerika Serikat risau karena nilai matematika dan sains muridnya tidak masuk peringkat atas, jauh dibawah sejumlah negara di Asia. Singapura menjadi rujukan.

SINGAPURA PERINGKAT 1

Singapura memang pantas berbangga. Adalah hasil studi yang digelar Third International Mathematics and Science Study (TIMMS) pada 1999 dan 2003 yang menunjukkan kehebatannya. Riset ini diikuti 180.000 murid dari 38 negara. Singapura mengikutkan 5.000 muridnya.

Pada 1999, dari 38 negara yang menjadi obyek survei terhadap murid kelas 8, Singapura menduduki peringkat nomor 1. Ini mengulangi hasil yang dicapai Singapura pada 1995. Survei terakhir dilangsungkan pada 2007, namun hasilnya baru diumumkan Desember mendatang.

Dari nilai maksimal 1.000, murid Singapura mendapatkan rata-rata 604, jauh di atas capaian Amerika Serikat. Indonesia menduduki peringkat 34, di bawah Thailand maupun Malaysia. Survei yang dilakukan terhadap murid kelas 4 di 38 negara menunjukkan hasil serupa. Singapura nomor satu.

Yang membuat Singapura bangga, menurut hasil riset itu, murid-muridnya memang menyukai matematika dan sains. Nilai tinggi ini didapat karena kedua pelajaran itu memang disukai para murid.

INTELLIGENT NATION 2015

SINGAPURA tak henti-hentinya menjaga keunggulan siswa di bidang teknologi dan matematika. Proyek besarnya dirancang oleh Departemen Informasi dan Komunikasi, dengan menggulirkan program “Intelligent Nation 2015”, biasa disingkat iN2015. Melalui proyek ini, Singapura ingin mengutamakan penggunaan teknologi informasi di berbagai bidang: ekonomi, pendidikan, dan pembelajaran. Untuk mendukung kegiatan itu, sekolah mengadakan program “FutureSchool@Singapore”.

Akhir Juli lalu, pemerintah Singapura mengumumkan empat konsorsium yang menang tender perangkat lunak bagi 15 sekolah perintis. Setelah hasilnya bagus, perangkat lunak itu disebarkan ke sekolah lainnya. Di antara pemenangnya adalah Civica, perusahaan penyedia program khusus pendidikan, yang sudah lama buka kantor di Singapura. Anggotanya SingTel, ST Electronics, dan HewlettPackard. Nilai proyeknya cukup besar, Sin $80 juta, lebih dari Rp 400 milyar, dilaksanakan selamat empat tahun hingga 2012.

Masing-masing anggota konsorsium memiliki tugas sendiri. Civica, misalnya, mendapat perintah untuk membuat program komputer pelajaran interaktif 3D di bidang lingkungan di SMP Jurong. Dengan proyek ini, pemerintah Singapura berharap, keunggulan negaranya di bidang matematika dan sains terus bertahan.

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: